Berteologi Melawan Kemiskinan

Selama ini, agama seringkali ditafsirkan pada domain teosentris semata yang mengedepankan aspek ritus transendental, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan. Hal itu dilakukan karena ritus suci atau ibadah maghdah dinilai sebagai alternatif-solutif mencapai kesempurnaan iman seorang hamba kepada Tuhannya.

Sementara domain antroposentris atau ritus sosial kurang mendapat porsi utama dalam perilaku keagamaan. Akhirnya perilaku keberagamaan kurang merespon dan terlibat dalam memecahkan persoalan sosial kemanusiaan Agama, dan keagamaan seringkali tidak berjalan secara linear, karena agama lahir menampilkan dirinya dari sisi tekstualis yang sudah tetap (qot’e) sementara keagamaan.

Islam historis tampil dengan latarbelakang sosial, budaya, tradisi dan wilayah yang juga memberikan kontribusi terhadap lahirnya perilaku keberagamaan. Meminjam istilah Fazlur Rahman bahwa kategorisasi agama itu lebih pada aspek normatif, sementara teologi lebih pada aspek empiris-historis. Maka, pada gilirannya agama yang final perlu kreativitas dalam menafsirkan teks, agar agama tetap segar dan tidak layu manakala disandingkan dengan kemajuan dan perkembangan zaman.

Robert N’Bellah, dengan ide cerdasnya mengatakan bahwa agama tidak sekadar dogma baku-kaku, lebih dari itu agama bisa menjadi lokomotif perubahan di dunia. Gagasan cemerlang ini harus diapresiasi setiap manusia yang mengikrarkan dirinya sebagai mahluk beragama. Dengan demikian, agama tidak dimaknai secara parsial-skripturalis.

Agama tidak hanya mengurusi masalah Tuhan ansich, karena manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi ini. Secara eksplisit Tuhan memberi hak otoritatif kepada manusia untuk mengatur dan mengelola masalah dunia. Rasulullah dalam sabdanya, “kamu sekalian lebih mengerti dengan persoalan atau masalah-masalah duniamu.”

Hal ini semakin menegaskan bahwa agama lahir tidak sekadar mengurusi masalah Tuhan, tetapi agama lahir untuk membangun peradaban kemanusiaan yang jauh dan terhindar dari eksploitasi, dehumanisasi dan marginalisasi secara sosial, politik, ekonomi dan budaya. Agama lahir untuk kepentingan manusia, bukan kepentingan Tuhan, karena Tuhan tidak mempunyai kepentingan.

Dalam hadis qudsinya, Tuhan berfirman, “Jika seluruh hamba-Ku bersujud kepada-Ku, (hal itu) tidak akan menambah kebesaran-Ku. Dan, jika seluruh hamba-Ku ingkar kepada-Ku, Aku tetap Aku.”

Keberpihakan agama dalam persoalan kemanusiaan tidak diragukan lagi. Kelahiran agama (Islam) adalah untuk memanusiaan manusia, bukan justru dijadikan alat legitimasi untuk melakukan eksploitasi kepada kaum-kaum tidak berdaya (mustad’afin). Untuk itu, peran dan tugas agama dalam memecahkan persoalan kemanusiaan, utamanya masalah kemiskinan menjadi postulasi final dan tidak bisa ditawar lagi. Akhirnya, agama harus memberanikan diri untuk tampil dalam ruang publik sebagai problem solving keumatan. Jika tidak, maka lambat laun, agama akan ditinggalkan oleh penganutnya.

Tak bisa dibantah bahwa kemiskinan menjadi musuh bersama bagi semua agama di dunia yang harus segera dituntaskan. Oleh karena itu, menggagas agama publik menjadi kebutuhan dan solusi cerdas untuk mengakhiri persoalan kemiskinan. Dengan demikian keimanan kepada Allah tidak berhenti pada ritus-ritus formal sebagai jalan tunggal untuk mendekatkan diri kepada Allah ’azza wajalla.

Sebenarnya, kehadiran Islam ke dunia ini semata-semata untuk membangun peradaban kemanusiaan, bukan membangun peradaban Allah, karena Allah sudah memiliki peradaban sendiri. Maka, tidak heran ketika dalam hadist Rasulullah dikatakan, ”Saya diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak-peradaban (civilization).” Hadist ini menegaskan bahwa membangun peradaban manusia menjadi visi dan misi utama agama Islam.

Karena, saat itu, ketimpangan dalam setiap aspek (budaya, sosial, ras, dan ekonomi) sangat memprihatinkan, sehingga masyarakat kala itu dikenal dengan masyarakat jahiliyah, yakni masyarakat yang jauh dari nilai-nilai dan martabat manusia, dimana manusia dihargai bukan lantaran ia sebagai manusia, tetapi dilihat dari segi keturunan, pangkat, jabatan, kekayaan semata.

Tetapi, Islam meruntuhkan tatanan sosial yang sudah mapan dan terjadi bertahun-tahun yang dinilai tidak beradab. Islam mengubah formasi sosial yang timpang dengan konsep persamaan (egalitarianisme) bahwa semua manusia di mata Tuhan Allah adalah sama, yang membedakan adalah kepasrahan secara totalitas dalam pengabdiannya kepada Allah.

Seringkali kemiskinan menjadi akar persoalan yang melahirkan tatanan masyarakat tidak kondusif atau kekacauan sosial (social disorder). Bahkan, yang tragis, manakala kemiskinan menghambat spirit pengabdian kepada Allah. Kemiskinan seringkali membuat manusia lalai dan ingkar kepada Allah, yang telah memberikan nikmat kepada mahluk-Nya di dunia fana ini.

Salah satu Khalafaur Rasyidin, Sayyidina Ali Karramallahuwahjah mengatakan, ”kemiskinan atau kefakiran itu mendekati kekufuran.” Pernyataan ini menarik untuk dikaji secara cermat, terutama bagi umat Islam. Pernyataan ini tentunya tidak lahir dalam ruang hampa. Realitas sosial dan kondisi umat Islam ketika itu menjadi inspirasi agar umat Islam harus bangkit dan bekerja keras agar tidak miskin. Miskin secara ilmu pengetahuan (science), ekonomi, politik budaya dan nilai-nilai sosial.

Sementara itu, dalam hadist, Nabi bersabda, ”Orang mukmin yang kuat (adalah) lebih baik, dan Allah lebih mencintai (itu) daripada mukmin yang lemah.” Secara harfiah bisa tafsirkan bahwa orang Islam harus tampil menjadi umat yang baik dan kuat, karena mustahil masyarakat madani akan lahir dan terwujud ketika umat Islam masih lemah, tidak memiliki posisi tawar (bargaining position) dalam konteks ekonomi, sosial budaya, politik, dan terlebih agama.

Inilah kemudian tuntutan serta substansi bahwa agama tidak sekadar hadir dengan ritus formal dan melalaikan persoalan sosial yang terjadi di sekitar kita. Praksis keberagamaan dalam memerangi kemiskinan ini menjadi cita-cita dan tujuan agama Islam. Jika iman itu menjadi salah satu fondasi dalam agama, tetapi dengan iman saja belum cukup. Naifnya, jika iman itu dimaknai secara sempit, dimana iman hanya dimaknai dengan percaya kepada Allah, sesuatu yang gaib hari pembalasan di akhirat nanti. Melainkan iman, sebagaimana gagasan Ali Syariati pemikir Islam dari Iran, yang termasuk kelompok syiah ini mengatakan, umat Islam belum dianggap beriman kalau tidak mampu membebaskan umat yang tertindas. Syariati menilai umat Islam belum dianggap beriman jika keberimanan berhenti pada ritus formal dan semata-mata untuk mengesakan (tauhid) Allah sebagai sang pencipta saja.

Meminjam istilah Kuntowijoyo, Islam harus hadir sebagai agama profetik, agama yang mengedepankan humanisasi, emansipasi dan transendensi. Kuntowijoyo merujuk pada nash Al-Quran surat Al-Imran: ayat 110 yang berbunyi, ”Umat Islam adalah umat terbaik yang pernah diciptakan untuk manusia, yang bertugas melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar (dalam arti keberimanan kepada Tuhan Allah SWT)”. Gagasan Kuntowijoyo yang ingin menampilkan Islam sebagai agama kemanusiaan harus direspon secara baik.

Humanisasi sebagai bagian dari doktrin-kontekstual Islam mampu diterapkan dalam ruang lingkup tatanan sosial kemasyarakatan yang nantinya akan bermuara pada pemanusiaan manusia. Karena, seringkali dalam masyarakat yang mengaku taat dalam menjalankan perintah agamanya, justru perangai sosial politik dan ekonominya tidak mencerminkan orang yang beragama. Amal sholeh dan keberpihakan kepada kaum miskin kurang mendapat perioritas utama bagi penganut keagamaan.

Sejatinya, bagi Kunto, humanisasi politik, sosial-budaya, ekonomi melekat (inheren) sebagai bagian dari doktrin agama. Berpolitik secara santun-beradab dan berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan universal menjadi perilaku politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga kebijakan yang dhasilkan menjadi solusi dan berpihak kepada kaum lemah (mustad’afin).

Alih-alih politik menjadi solusi bagi problem keumatan, justru realitas politik mencerminkan bahwa rakyat dan kaum lemah semakin termaljinalkan lantaran kebijakan yang dibuat oleh elit politik tidak bertumpu ada kebutuhan dan kepentingan masyarakat akar rumput (grass root). Dengan demikian, masyarakat menilai bahwa politik itu penuh dengan tipu daya dan permainan yang sering menindas dan merugikan rakyat kecil.

Pun,humanisasi dalam bidang ekonomi. Jika ekonomi dinilai sebagai bagian dari pilar penting dalam membangun masyarakat yang sejahtera, maka ekonomi tidak hanya berorientasi pada profit dan mengabaikan etika kemanusiaan seperti mengahalalkan segala cara. Dimana akhirnya pedagang kecil, pengusaha kecil harus tutup dan tergusur gara-gara hadirnya swalayan besar mengancam eksistensi pasar-pasar tradisional yang bermodal pas-pasan. Watak ekonomi kapitalis inilah yang menelantarkan masyarakat dan pedagang kecil.

Di sisi lain gagasan Kunto mengenai Islam profetik adalah menyangkut keterbelengguan umat dari ketertindasan, kemiskinan, kebodohan, dimana emansipasi-liberasi teologis menjadi jalan dari stagnasi keberagamaan selama ini. Islam, sejatinya mampu membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, hegemonisasi sosial budaya adat-istiadat dan tradisi yang kurang arif, dimana masyarakat menuhankan tradisi dan adat itu. Tradisi dan adat istiadat telah menjadi formasi sosial baku yang meng-hegemoni masyarakat. Melanggar adat lebih berat dosanya daripada melanggar dogma agama.

Sementara itu, transendensi merupakan wujud akan keberimanan, pengakuan, kepasrahan, dan rasa syukur kepada Tuhan Allah yang telah memberikan nikmat kepada umat manusia, maka menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah praksis nyata bagi umat manusia yang mengaku beragama.

Ada lima rukun Islam, seperti membaca dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Lima pilar ini menjadi salah satu media untuk mengingat, mengagungkan Tuhan sebagai sang pencipta. Jadi, Islam profetik atau Islam kenabian, akan terwujud manakala humanisasi, emansipasi-liberasi dan transendensi berjalan secara berdampingan. Jika tidak, maka Islam yang digambarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, hanya menjadi angan-angan belaka.

Sebagai catatan terakhir, penulis ingin menegaskan bahwa masyarakat madani atau masyarakat ideal akan tercipta manakala umat ini terbebas dari belenggu kemiskinan. Yaitu, miskin budaya, sosial, lingkungan, ekonomi, dan politik. Untuk itu, sebagai solusi nyata melawan kemiskinan adalah memposisikan dan menempatkan agama dalam domain publik dalam memecahkan problem keumatan. Selesai. (Abdus Salam, Faskel ENDE, Korkot-2 Flores KMW XII P2KP-3 NTT; Nina)

Iklan

Satu Tanggapan to “Berteologi Melawan Kemiskinan”

  1. Melawan kemiskinan adalah konsekwensi atas keimanan, fleksibilitas keimanan ialah keniscayaan, ia hadir tidak saja dalam ruang penghambaan horisontal. namun membumi, simultan sekaligus membebaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: