Semangat Mengubah Dunia
“One day our grandchildren will go to museums to see what poverty was like”
SEMBOYAN itulah yang membangkitkan semangatnya melawan kemiskinan di tanah kelahirannya, Bangladesh.
Semangat itu terpatri kuat di dalam benak seorang Muhammad Yunus. Mari kita coba pahami maknanya: “Suatu hari nanti, anak cucu kita akan datang ke museum untuk melihat kemiskinan itu seperti apa?”
Mungkinkah suatu hari nanti kemiskinan hanya menjadi barang antik? Muhammad Yunus telah membuktikannya. Dalam kerangka pembebasan masyarakat dari penindasan dan kemiskinan, Muhammad Yunus hadir di Bangladesh dengan mengibarkan bendera Grameen Bank. Jerih payahnya menghapus kemiskinan di negaranya yang penuh konflik dan kekerasan itu menginspirasi 23 negara lain termasuk Amerika Serikat, untuk berbuat hal serupa. Tak heran kalau kemudian Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya menerima Nobel perdamaian tahun 2006.
Mantan Presiden AS Bill Clinton saat memberikan penghargaan Nobel tersebut menyebut, Dr Yunus mestinya sudah sejak lama menerima penghargaan itu. ” Saya terus menerus mengucapkan hal itu hingga akhirnya mereka memberikan penghargaan itu kepadanya.”
Bagi anak ketiga dari 14 bersaudara yang dilahirkan di Desa Bathua, di Hathazari, Chittagong, Bangladesh ini, kekerasan tak semata-mata sebuah konflik antar-kelompok. Kekerasan juga bermakna penindasan yang membuat sekelompok masyarakat tak berdaya. Termasuk di dalamnya tak berdaya untuk keluar dari masalah seperti kemiskinan.
[ image disabled ] Sebagai seorang ekonom yang memegang gelar PhD dari Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Muhammad Yunus merupakan seorang yang memberontak terhadap teori-teori ekonomi yang dimilikinya. Dalam hukum ekonomi, sebuah bank memberikan pinjaman jika sang peminjam memiliki 5 C (Collateral, Character, Capital, Capacity and Condition) yang dipandang layak. Namun, perlawanannya tersebut merupakan jawaban atas ketidakberdayaan teori ekonomi yang diyakininya untuk menjawab permasalahan kemiskinan yang terjadi di Bangladesh.
Revolusi Pemikiran
Pertanyaan yang selalu membuat Yunus gundah adalah mengapa orang yang bekerja 12 jam sehari, 7 hari seminggu tapi tetap saja tidak punya cukup makanan untuk dimakan? Kegeraman muncul di hati Yunus, karena ilmu yang dipelajarinya tak mampu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya, Yunus memutuskan untuk belajar dengan orang miskin untuk memahami masalah mereka. Selama 2 tahun dari tahun 1975 hingga 1976, Yunus mengajak mahasiswanya berkeliling di Desa Jobra.
Kegundahan Yunus semakin menjadi-jadi ketika masalah kemiskinan cukup mudah untuk dimengerti, namun tidak mudah untuk menemukan solusinya. Muhammad Yunus menemukan pencerahan ketika pada salah satu acara berkeliling ke desa bertemu dengan seorang wanita pembuat bangku dari bambu. Namun karena ketiadaan modal, wanita tersebut meminjam kepada rentenir untuk membeli bambu sebagai bahan baku. Setelah bangku tersebut jadi harus dijual kepada rentenir dan dia hanya mendapatkan selisih keuntungan sekitar keuntungan 0,50 taka (0,02 USD).
[ image disabled ] Muhammad Yunus menemukan 42 keluarga lainnya yang mengalami permasalahan serupa. Dengan uang pribadinya, ia lantas memberikan kredit sejumlah US$ 17 kepada 42 orang miskin. Pinjaman yang diberikan kurang dari US$ 1 per orang. Namun dengan jumlah pinjaman yang kecil dan tanpa agunan tersebut, meningkatkan omset seorang pembuat bangku dari sekitar 2 penny perhari menjadi US$ 1,25 per hari.
Grameen Bank akhirnya, Yunus menemukan sebuah revolusi dalam pemikirannya, kemiskinan terjadi bukan karena kemalasan tetapi karena permasalahan struktural dan ketiadaan modal.
Sistem ekonomi yang berlangsung membuat kelompok masyarakat miskin tidak mampu menabung bahkan hanya 1 penny sehari. Akibatnya, orang miskin tidak dapat melakukan investasi bagi pertumbuhan usahanya. Rentenir memberikan bunga sekitar 10% bagi pinjaman yang diberikannya, sehingga bagaimanapun juga orang miskin bekerja keras terhadap dirinya tak dapat keluar dari garis kemiskinan.
Ayah dua anak ini akhirnya mendirikan Grameen Bank (Grameen artinya “daerah pedesaan”) sebagai sebuah alternatif pemberdayaan kelompok miskin di Bangladesh pada tahun 1976.
Prinsipnya, Grameen Bank menyediakan kredit bagi warga termiskin di daerah pedesaan Bangladesh tanpa ada jaminan. Namun dalam menyalurkan kreditnya, Yunus lebih banyak memberikan kredit kepada wanita. Lebih dari 96% pinjaman diberikan kepada kaum wanita miskin ketimbang pria yang menafkahi keluarganya.
Strategi tersebut menjadi senjata yang efektif memerangi kemiskinan, juga katalisator pembangunan sosial-ekonomi menyeluruh. Grameen Bank telah membantu Bangladesh untuk keluar dari lembah kemiskinan.