Globalisme dan Masa Depan Agama
GLOBALISASI adalah sebuah proses sosial yang “mengabaikan” geografi dan keadaan sosial-budaya sebagai kemestian kemajuan teknologi-informasi dan pembiakan korporasi transnasional yang terjelma dalam kesadaran orang. Banyak kalangan memandang bahwa globalisasi merupakan takdir Tuhan yang tidak dapat dihentikan. Berkahnya meliputi investasi, alih teknologi, jaringan internet, percepatan aliran informasi, modernisasi, pengajaran, kemakmuran.
Di lain pihak, sebagian kalangan sangat prihatin terhadap kecenderungan perkembangan ekonomi dunia yang rentan gejolak sebagai akibat dari arus finansial global yang semakin liar. Padahal tak semua negara memiliki daya tahan yang tangguh untuk terlibat di dalam kancah lalu lintas finansial global yang tak lagi mengenal batas-batas negara dan semakin sulit dikontrol oleh pemerintah negara yang berdaulat. Pembangunanisme menjadi alat efektif penetrasi besar-besaran dalam kehidupan ekonomi dunia berkembang hingga saat ini.
Di satu sisi, negara hadir sebagai pengakomodir kepentingan dan kebutuhan rakyat. Di lain pihak, ia juga harus mengikuti ketentuan-ketentuan internasional yang bisa jadi bertentangan dengan realitas objektif negara tersebut. Pada saat neo-liberalisme menghembuskan mitos bahwa perkembangan sebuah negara ditentukan oleh perbanyakan ekspor ketimbang impor, negara menerima akibat dekontruksi segala lembaga sosial-politik dan kebudayaan dan kehancuran perusahaan dan petani lokal. Kepentingan-kepentingan bisnis besar sanggup mengalahkan undang-undang nasional mengenai jaminan keamanan pangan, perburuhan, penguatan ekonomi lokal dan perlindungan lingkungan. Mereka meyakinkan pemerintah masing-masing negara untuk mengubah undang-undang tersebut melalui jaringan organisasi ekonomi global, represi diplomatik sampai invasi militer.
Sistem perdagangan ini didominasi oleh efisiensi ekonomi yang tergambar dalam pencapaian profit perusahaan secara cepat. Keputusan-keputusan yang mempengaruhi ekonomi hanya dinikmati oleh sektor swasta, sedangkan biaya-biaya sosial dan lingkungan menjadi beban publik. Namun tetap saja penjualan dan aset-aset perusahaan transnasional yang mahabesar jumlahnya itu terkonsentrasi di negara induk mereka atau negara-negara kapitalis lainnya. Negara miskin hanya berjasa pada penyediaan jasa buruh murah dan sumber alam yang belum tergali maksimal. Investasi langsung luar negeri di sektor manufaktur diarahkan ke cabang-cabang industri dengan tingkat pembelanjaan modal cukup tinggi, dengan tenaga kerja yang lebih sedikit tetapi terlatih dan upah yang relatif tinggi. Sedangkan negara-negara miskin tetap termarjinalisasi sepanjang menyangkut perdagangan dunia. Ideologi bisnis adalah laba, laba, dan laba.Tidak heran, para pengkritik globalisasi mengatakan bahwa ada persamaan antara globalisasi dan kolonialisasi. Globalisme adalah metamorfosis semangat exploitation de l’homme par l’homme dari induk kolonialisme masa lalu. Negara dan nasionalisme pun tidak muncul tiba-tiba sehingga bisa disebut memiliki keunikan atau kekhasan yang berbeda dengan negara lain, melainkan hadir dari sebuah “kompromi” antara penjajah dengan koloninya. Bukankah teritori nasion itu sendiri pada dasarnya adalah limpahan kolonialnya?
Invasi budaya, bentuk lembut dari kolonisasi kultural –pengganti ekspansi wilayah, berdampak lebih dahsyat karena membawa perubahan ideologi bangsa dan negara. Kebudayaan dominan, hasil penaklukan kapitalisme terhadap aktivitas kebudayaan manusia, akan berjalan menunggal karena wataknya yang monolitik. Amerika tidak perlu membuka pangkalan militer selama rakyat negeri seberang menikmati sajian musik MTV dan film Hollywood sambil mengunyah burger McDonald dan ayam KFC. Mereka juga tidak perlu membikin paket indoktrinasi ideologi mereka secara masal ala P4 kepada rakyat negara lain, melainkan cukup dengan pertukaran pelajar, pemberian beasiswa doktoral, dan pelbagai pelatihan. Tunggu duapuluhan tahun, maka seluruh ideologi dan kebijakan negara mereka akan berubah perlahan.
Invasi ini tidak mandeg. Kapitalisme adalah isme yang paling banyak belajar atas perkembangan bentuk libido manusia sehingga mudah berganti nama, bentuk dan mengekor setiap aktivitas kebudayaan lokal. Globalisme tidak memestikan penghapusan budaya lokal selama ia bersanding mesra dengan kapitalisme. Citra dan identitas lokal justru merupakan pasar alternatif atas homogenitas budaya global. Maka muncullah lagu dangdut di MTV, rendang McDonald, dan KFC perlu mengimbuhi iklannya dengan “Paket Hemat ala Bung Hatta.”
Tidak hanya itu, lembaga agama pun ditabraknya. Secara tak langsung agama telah menjadi subordinat kapitalisme itu sendiri. Segala bentuk nama, nilai dan bentuk ajaran agama perlu diprofankan agar eksis dan nampak gaul. Sehingga, sebuah kelompok nasyid sampai perlu menbuat konferensi pers untuk mengumumkan bahwa mereka telah mengganti baju Melayu atau ala Pakistan mereka dengan blazer yang sedang ngetren, hanya untuk bilang bahwa Islam itu tidak anti-fesyen. Mungkin karena itulah tudingan “setan besar” seorang Khomeini kepada AS, sebagai pengekspor-paksa budaya pencitraan dan pola-pola hiperrealitas, dapat dimengerti. Tidak ada kemajuan yang didapat sebuah negara dalam arus kapitalisme kecuali kehancuran.
Tentu kita tidak dengan gampang menggeneralisasi bahwa globalisasi sebagai gaya hidup dan globalisasi sebagai sistem nilai. Sebagai gaya hidup, pengadopsian nilai dan tradisi perennial cenderung diabaikan sebagai contoh di atas. Sebaliknya, pada yang kedua, globalisasi terkait erat dengan pengukuhan tradisi dan nilai perennial. Globalisasi hanya mereduksi garis demarkasi, region, dan memblender etnisitas. Namun, terdapat ideologi selain nasionalisme yang melintas batasan material tersebut, agama, bukan sebagai lembaga sosial melainkan sebagai sistem nilai. Semangat tauhid menjadi barrier bagi setiap intervensi asing yang tidak sesuai dengan norma-norma lokal dan keagamaan. Tapi, bagaimana kita memahami gerakan sufisme seperti sanusiyah, yang kenyataannya, berpadu di Afrika, syiisme di Iran, kapitalisme Amerika dengan protestanisme, modernisme Jepang dengan Shinto, Cina dengan Konfusionisme, bushido di Jepang?
Masalah yang dapat dapat diajukan lebih lanjut, dalam batas dan wilayah mana agama efektif sebagai tameng dan filter bagi efek-efek globalisasi? Apakah yang harus dipersiapkan oleh kalangan agamawan sehingga ajaran-ajaran langit tetap diminati dan tidak mubazir sebagai fosil masa lalu, tanpa harus menjadi funky? Apakah “islamisasi” tidak melahirkan pengatasnamaan Islam atas segala produk globalisasi? Ketika agama menjadi tameng alternatif, apakah dengan demikian nasionalisme-baru atau sebutlah nasionalisme-religius akan lahir mengiringinya dan mendapat penguatan? Dalam bentuk dan peran yang bagaimana?
Globalisasi sebagai globalisasi adalah kemestian peradaban yang tak mungkin terelakkan. Globalisasi juga telah dipraktikkan jauh sebelum istilah globalisme dikenal. “Belajarlah walau ke negeri Cina,” adalah satu hadis yang menyiratkan aktivitas global pada masyarakat Arab waktu itu, melintas jauh sebelum Islam lahir. Relasi antarperadaban berlangsung lebih adil dan kompetitif. Jauh berlangsung sebelum ulama-ulama tradisional mempersengketakan hukum memakai alat transportasi buatan orang kafir. Banyak dimensi filosofis agama yang belum tergali maksimal, yang justru berpengaruh signifikan saat kita berhadapan segala bentuk globalisasi.[Andito]